JAKARTA – PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) menyebutkan volume barang diangkut kapal tol laut naik sebesar 188 persen pada kuartal pertama 2021 dibanding pada kuartal pertama 2020. Jumlah muatan yang diangkut Pelni selama tiga bulan pertama tahun ini mencapai 2.650 TEUs (twenty-foot equivalent units), naik dari periode yang sama tahun lalu yang hanya 1.404 TEUs.
Direktur Usaha Angkutan Barang dan Tol Laut PT Pelni, Yahya Kuncoro, menyatakan lonjakan tersebut terjadi karena layanan pengiriman barang yang teratur. “Perdagangan akan muncul kalau layanan regulernya tersedia,” kata dia kepada Tempo, kemarin.
Perusahaan yang melayani sembilan trayek tol laut ini secara rutin memberikan informasi jadwal kapal 30 hari sebelum keberangkatan. Kementerian Perhubungan juga telah meluncurkan sistem pelacak keberadaan kapal dan barang melalui aplikasi Sitolaut yang beroperasi di sistem operasi Android. Aplikasi ini merupakan pengembangan dari platform Logistics Communication System atau LCS yang hanya bisa diakses melalui situs web.
Strategi ini dianggap bisa memberikan jaminan kepastian bagi pengirim barang. Dengan begitu, kapal yang bertolak menuju pelabuhan asal juga bisa berisi muatan. Yahya mengungkapkan, dari 2.650 TEUs muatan pada kuartal pertama, sebanyak 988 TEUs diangkut dalam arah balik. “Kalau sebelumnya rata-rata kosong, sekarang sudah hampir separuhnya ada di arus balik,” kata dia.
Keputusan pemerintah menambah jenis muatan tol laut sejak pertengahan tahun lalu juga turut andil mendorong kenaikan muatan. Pada 20 Mei 2020, Menteri Perdagangan merevisi Peraturan Menteri Nomor 38 Tahun 2018 menjadi Peraturan Menteri Nomor 53 Tahun 2020. Berdasarkan perubahan tersebut, jumlah muatan yang bisa diangkut tol laut bertambah dari 25 jenis menjadi 32 jenis barang.
Kenaikan volume barang juga dialami PT ASDP Indonesia Ferry (Persero). Jumlah muatan yang diangkut kapal Kendhaga Nusantara 6 dari Makassar ke Nunukan tumbuh dari 98 TEUs pada kuartal I 2020 menjadi 115 TEUS pada periode yang sama tahun ini. Sementara di arah balik, muatan naik dari 35 TEUs menjadi 82 TEUs. Muatan keberangkatan didominasi semen, terigu, pakan, hingga air mineral. Sedangkan muatan balik didominasi rumput laut.
Direktur Komersial dan Layanan PT ASDP Indonesia Ferry, Yusuf Hadi, menuturkan, selain trayek tersebut, masih ada beberapa titik singgah yang belum memiliki muatan berangkat atau balik. Angkutan di trayek yang dilalui kapal pengumpan pun belum optimal. “Karena terbatasnya gross ton, kapal hanya dapat mengangkut muatan barang curah reguler dari masyarakat,” tuturnya.
Menurut Yusuf, kapal pengumpan belum dapat mengakomodasi muatan berbobot kurang dari 5 ton. Yusuf berujar ASDP terus berkoordinasi dengan pemerintah daerah untuk mengoptimalkan muatan di titik singgah.
Direktur Utama PT Djakarta Lloyd (Persero), Suyoto, menyebutkan perusahaan berupaya mengoptimalkan muatan melalui kerja sama dengan pemerintah daerah yang disinggahi kapal untuk mempromosikan tarif murah tol laut. Strategi ini berhasil membantu kapal selalu berangkat dengan muatan penuh. “Rute balik juga rata-rata kalau digabungkan sudah mencapai 50 persen,” katanya.
Dari lima trayek tol laut yang dioperasikan Djakarta Lloyd, belum semuanya mampu kembali dengan kapasitas penuh seperti halnya rute Surabaya-Ambon serta Surabaya-Sulawesi. Muatan balik di tiga rute lainnya baru berkisar 35-50 persen. “Kendalanya bukan karena harga angkut, melainkan terbatasnya komoditas yang bisa dibawa ke luar daerah,” tuturnya.
Direktur Eksekutif Pusat Kajian Maritim untuk Kemanusiaan, Abdul Halim, menuturkan optimalisasi muatan logistik tol laut bergantung pada perhatian pemerintah daerah. Menurut dia, perlu ada kolaborasi antar-pemerintah daerah untuk menukar produk unggulan. “Daerah yang kaya rempah bisa bekerja sama dengan daerah yang kaya bahan pokok,” ujar dia.
Adapun anggota Asosiasi Logistik Indonesia, Zaldy Ilham Masita, menilai kenaikan muatan logistik tol laut masih sangat bergantung pada subsidi pemerintah. “Ini sama seperti mendapatkan gratis ongkos kirim di e-commerce, ya, pasti ramai,” tuturnya. Dia ragu tren kenaikan ini mampu bertahan. Pasalnya, tanpa subsidi tarif, pengiriman barang masih tinggi. Bantuan pemerintah hanya memangkas ongkos angkut di kapal, sementara distribusi setelahnya masih mahal. Sebagai catatan, pemerintah menganggarkan Rp 350 miliar tahun ini untuk mensubsidi program tol laut.
VINDRY FLORENTIN
Sumber: https://koran.tempo.co/amp/ekonomi-dan-bisnis/464066/tumbuh-pesat-muatan-tol-laut
Add a Comment